
Hari kemarin seorang rekan menawarkanku belajar bisnis. Percaya atau tidak, aku ditawarinya menjadi publisher "perusahaannya". Sebenarnya aku seringkali mendengar bahasa publisher sebelumnya, namun, sama sekali tak kumengerti apalah artinya, padahal ayahku sangat gemar pada bisnis. Lalu kutanyakan ketidak tahuanku pada rekanku satu itu, lalu dijelaskannya bahwa publisher ya nyaris sama dengan sales. Pikirku, "ha, gue jadi sales?", bayanganku sudah menerawang menerobos jalanan raya, kampung- kampung kumuh, hingga menuju satu sosok seorang pengendara motor dengan "bronjong" berisi madu di belekangnya, Pak Sunar, sales di CV. Arba'in, situs kerja ayahku. Oh, oh, tak maulah..berpanas- panas menawarkan produk rekanku ke toko- toko, sekolah- sekolah, bahkan kampung- kampung seperti Pak Sunar. Namun rekanku itu pandai sekali menarik hatiku. Dengan iming- iming uang segepok, rasanya sudah tergiur sekali aku. Seakan nantinya aku bisa membeli apapun dengan uangku sendiri. Hp, lepi, rumah, sawah, gedung, bahkan hotel- hotel.
Dalam kondisi pikiran menerawang sampai kemana- mana, seorang kawan menghampiriku. Dengan gayangya yang dibuat- dibuat perhatian, ia menanyakan dengan penuh empati, "ada apa gerangan kawan sekamarku?". Hemm, wajahnya syahdu, seakan benar- benar ingion menyelamatkanku dari keadaanku yang puyeng. Aku hanya geleng- geleng hampir sekarat. Ia menawarkanku untuk dibawa ke ICU, dioksige katanya. Wah, aku semakin puyeng saja dibuatnya. Daripada berlama- lama ia merayuku untuk dibwa ke ICU, langsug saja kukisahkan bahwa aku ditawari rekanku untuk menjadi publisher di perusahaannya. Sontak ia juga mendadak hampir pingsan. Kini aku yang ahrap- harap cemas, apakah kawanku yang sat ini yang malah semaput. Setelah menanti ratusan detik, ia berkata sambil megap- megap, "Kau bercanda ya.. orang sepertimu mau jadi publisher? ha ha ha ha..., dia malah ngekek. "sebentar.. mukamu saja sudah tidak meyakinkan, seperti orang dungu! yakinlah aku semisal kau jadi benar menjabat publisher, adanya kau ini yang kena tipu.. ha ha ha ha.., dia ngikik lagi. Huh, aku setengah tak percaya, sebab aku ini begitu positif thinking jadi orang. Kawanku satu lagi berdatangan, "ada apa gerangan ini? kok Tutung kayak orang sekarat?''. Lalu kawanku yang tadi menjelaskan sembari terkikik- kikik, spontan kawanku yang baru hadir itu langsung menjitak kepalaku. "memang kau sudah paham apa kerjanya? apa kau juga sudah paham produk yang dipasarkan rekanmu itu? seandainya kau ini ditanya- tanya oleh konsumen, apa yang hendak kau ucapkan? kau ini.."Aku geleng geleng. Heran pada diri sendiri.
Huh, sudahlah, rasanya aku batalkan saja tawaran rekanku itu. Lagipula aku tidak tahu menahu soal bisnis. Takut- takut aku malah kena tipu, atau nantinya malah menjadi publisher yang amatir sehingga merugikan rekanku itu, wah, sengsara dunia akherat. Sudahlah, aku putuskan, aku harus belajar bisnis lebih banyak sebelum melangkah. Sebab bisnis juga punya ilmunya, bukan asal malpraktek. Baiklah, mulai belajar bisnis. Siap- siap melahap buku- buku, konsultasi pada ayah, Ustadz Farhan. Ya, aku berharap mampu menjadi bisnisman yang sukses. Untuk terakhir kalinya, aku menertawakan keluguan diriku sendiri.
Dalam kondisi pikiran menerawang sampai kemana- mana, seorang kawan menghampiriku. Dengan gayangya yang dibuat- dibuat perhatian, ia menanyakan dengan penuh empati, "ada apa gerangan kawan sekamarku?". Hemm, wajahnya syahdu, seakan benar- benar ingion menyelamatkanku dari keadaanku yang puyeng. Aku hanya geleng- geleng hampir sekarat. Ia menawarkanku untuk dibawa ke ICU, dioksige katanya. Wah, aku semakin puyeng saja dibuatnya. Daripada berlama- lama ia merayuku untuk dibwa ke ICU, langsug saja kukisahkan bahwa aku ditawari rekanku untuk menjadi publisher di perusahaannya. Sontak ia juga mendadak hampir pingsan. Kini aku yang ahrap- harap cemas, apakah kawanku yang sat ini yang malah semaput. Setelah menanti ratusan detik, ia berkata sambil megap- megap, "Kau bercanda ya.. orang sepertimu mau jadi publisher? ha ha ha ha..., dia malah ngekek. "sebentar.. mukamu saja sudah tidak meyakinkan, seperti orang dungu! yakinlah aku semisal kau jadi benar menjabat publisher, adanya kau ini yang kena tipu.. ha ha ha ha.., dia ngikik lagi. Huh, aku setengah tak percaya, sebab aku ini begitu positif thinking jadi orang. Kawanku satu lagi berdatangan, "ada apa gerangan ini? kok Tutung kayak orang sekarat?''. Lalu kawanku yang tadi menjelaskan sembari terkikik- kikik, spontan kawanku yang baru hadir itu langsung menjitak kepalaku. "memang kau sudah paham apa kerjanya? apa kau juga sudah paham produk yang dipasarkan rekanmu itu? seandainya kau ini ditanya- tanya oleh konsumen, apa yang hendak kau ucapkan? kau ini.."Aku geleng geleng. Heran pada diri sendiri.
Huh, sudahlah, rasanya aku batalkan saja tawaran rekanku itu. Lagipula aku tidak tahu menahu soal bisnis. Takut- takut aku malah kena tipu, atau nantinya malah menjadi publisher yang amatir sehingga merugikan rekanku itu, wah, sengsara dunia akherat. Sudahlah, aku putuskan, aku harus belajar bisnis lebih banyak sebelum melangkah. Sebab bisnis juga punya ilmunya, bukan asal malpraktek. Baiklah, mulai belajar bisnis. Siap- siap melahap buku- buku, konsultasi pada ayah, Ustadz Farhan. Ya, aku berharap mampu menjadi bisnisman yang sukses. Untuk terakhir kalinya, aku menertawakan keluguan diriku sendiri.